You are currently browsing the monthly archive for Juni 2008.
Most manufacturers are reluctant to accept any limitation on the image of their brand. They want it to be all things to all people… They generally end up with a brand which has no personality of any kind, a wishy washy neuter. No capon ever rules the roost.
David Ogilvy – Confessions of an Advertising Man
Dasar memang tukang lupa, semua reminder termasuk hari ulang tahun teman pun sering tidak ingat, dan jadilah handphone tukang bantu ngingetin.
Karena nggak canggih–ya buat apa pula handphone canggih-canggih, toh juga gaptek, cuman buat nelpon dan SMS–akhirnya kapasitas memory memenuh (apa sih, memenuh? :p). Phonebook penuh, ya SIM card memory-nya, ya phone memory-nya. Inbox sering penuh karena lupa hapusin SMS-SMS lama. Ya cuman calendar aja yang masih belum penuh, tapi itu pun mulai lambat diakses, berarti udah memenuh (teuteup :p).
Di sela-sela membersihkan agenda yang kagak penting itu, terseliplah salah satu reminder ulang tahun seorang teman kemarin. Telat sehari ga papa lah, tinggal nambahin “belated”, pikirku. Begitu ucapan selamat terkirim, si teman malah membalas, “Lho, kan kemarin sudah? Lupa ya.”
Astaga (dotcom), kok bisa lupa ya kejadian belum 24 jam berlalu. Ah jangan-jangan otakku juga udah memenuh nih, kerjanya mulai bolot. Pantesan sebulan terakhir sering mampet.
“Lho, bukannya emang nggak pernah lancar ya?”
Lha namanya juga Jakarta :p Lancar dari Hongkong…

Tempatnya deket keramaian tapi nggak berisik, jadi orang bisa nongkrong dan ngobrol santai. Ada meja bertenda di teras, jadi kalo pengen sambil ngerokok dan menghirup udara pagi atau angin malam segar bisa.
Menunya aneka kopi, teh, susu, cokelat, dan cemilan klasik macam sausijbrood, risol ayam tuna, toast atau pancake dengan mentega atau maple syrup, cake tape, serta cookies: lidah kucing, kue kenari, dan spekulaas. Kalo males ngemil boleh pesen soto atau nasi goreng di kedai sekitar atau gerobak yang lewat (coffee shop mana hayo, yang bisa seenak udelnya gini?).
Ada paid-wifi yang bisa dibeli isi ulang atau subscribe abonemennya, lalu kartu remi, domino, Lego, halma, catur, ular tangga, monopoli, dan aneka majalah impor terbaru di rak sekitar meja. Lantainya ubin batu a la jalanan di Eropa, lalu musik jazz–dari klasik macam Pink Martini hingga experimental/NuJazz a la Funkservice International–mengalir nyaris non-stop, kecuali plasma TV lagi nayangin siaran langsung Piala Dunia atau Piala Eropa.
Menu unggulannya Irish Coffee (kayak ngerti aja Irish Coffee itu apaan :p), dan tagline-nya “Kiss my aars.” Dari singkatan nama kafenya, Anggep Aja Rumah Sendiri. Enak kan, nama brand-nya jadi lebih mudah nempel. Kayak perangko, hehehe…
Aku sering salut melihat orang Barat. Sudah harus 4 kali menyesuaikan diri dengan pergantian musim tiap tahunnya, masih harus bisa survive dari perbedaan suhu udara yang sangat kontras antara musim dingin dan musim panas.
Memang umumnya sejuk di musim semi dan musim gugur, tapi begitu musim panas cuaca di negara-negara mereka sangat bikin gerah. Itu sebabnya, sebagai antisipasi tidak efektifnya kegiatan sekolah maupun kerja di cuaca yang kelewat panas, ada budaya libur musim panas. Di kemudian hari, libur ini tumbuh menjadi budaya liburan. Dari sebuah antisipasi terhadap fenomena alam yang kurang mendukung, menjadi sebuah keceriaan baru. Dan seperti halnya paus di musim dingin, banyak orang Barat di musim panas berlomba menuju daerah tropis untuk bersuka ria.
Mereka yang hidupnya tidak semewah itu pun masih punya alternatif hiburan lain, di antaranya film-film pilihan yang rilis tayangnya sengaja dikumpulkan di pertengahan tahun (selain Natal dan Tahun Baru); atau pesta-pesta olahraga yang hampir semua selalu diselenggarakan pertengahan tahun, mulai dari Piala Dunia, Piala Eropa, Copa America, dan Olimpiade.
Khususnya untuk tahun-tahun genap, penggila bola macam aku pasti terpuaskan dengan demam bola tiap hari. Nonton bola, ngobrolin bola, bahkan tahun ini aku dan teman-teman sekantor juga main futsal bareng hampir tiap minggu untuk merayakan Euro 2008–baru kedua kalinya sejak dulu saat SMA juga main bola sambil nonton Piala Dunia 1998.
Lama-lama merayakan sepakbola ini jadi seperti ibadah :p
Dua kali kemenangan, melesakkan tujuh gol, dan memastikan lolos dari penyisihan grup bukan berarti Spanyol sudah tampil meyakinkan. Setidaknya dibandingkan dengan tim-tim yang sudah lolos duluan seperti Portugal, Kroasia, dan terutama Belanda.
Penampilan yang belum maksimal ini lebih karena ketidakseimbangan di lini tengah–bukan rapuhnya lini belakang seperti yang banyak orang keluhkan.
Walaupun diperkuat pemain-pemain dengan skill individu istimewa, tapi racikan pelatih Luis Aragones masih belum tepat. Andres Iniesta yang biasa dipasang di tengah atau kiri (AM LC, Attacking Midfielder Left Centre) di klubnya, Barcelona, malah dijadikan sayap kanan. Memang Iniesta pemain yang lebih suka menggunakan kaki kanan, tapi itu bukan berarti ia pasti lebih efektif di posisi kanan daripada kiri. Dari dua kali penampilannya, walaupun sering menyuplai umpan-umpan “ajaib”, termasuk salah satunya assist untuk gol kedua David Villa saat melawan Rusia, ia tetap kikuk dan tidak seefektif semestinya.
Beberapa menit sebelum ia digantikan oleh Santi Cazorla di menit 59 saat melawan Swedia barulah ia lebih “hidup”, tentunya setelah pindah (atau dipindah) ke kiri. Tapi ini juga belum seimbang karena David Silva yang kidal dan efektif menjadi sayap kiri jadi harus menempati posisi aneh di sayap kanan. Itulah sebabnya akhirnya mereka harus “dikorbankan” salah satu, dan Iniesta-lah yang kemudian digantikan Cazorla. Silva kembali ke sayap kiri, Cazorla di sayap kanan. Mendingan…
—
Persoalan tidak berhenti hanya soal sayap, apalagi bila kelak Spanyol ingin mengungguli Belanda, Perancis, Italia, atau Rumania di babak perempat final–yang masing-masing punya kualitas lini tengah yang sangat bagus.
Bagaimanapun lini tengah adalah pemasok terbesar umpan ke penyerang, dan sektor inilah yang masih relatif lemah untuk tim bertabur talenta individual seperti Spanyol. Ini terbukti dari dua pertandingan yang sudah berjalan, di mana dominasi penguasaan bola Spanyol tidak diimbangi dengan attempts-on-goal. Bahkan saat melawan Swedia, selepas unggul 1-0 dan dalam prosentase penguasaan bola 63-37, Swedia lebih banyak melakukan tembakan ke gawang (7 berbanding 3), yang salah satunya berbuntut gol Zlatan Ibrahimovic.
Menempatkan Marcos Senna sebagai “jangkar” lini tengah memang sudah tepat, namun Senna–walaupun punya kemampuan merebut bola yang baik–bukanlah pengumpan yang brilian. Akhirnya dominasi penguasaan bola tadi sebagian besar tidak menjadi awal sebuah serangan mematikan. Tidak juga lantas mendikte permainan.
Sebenarnya kehadiran Xavi bisa jadi penyeimbang, tapi rupanya dalam cukup banyak kesempatan Xavi belum seefektif biasanya. Dan off-peak Xavi ini sebetulnya bisa ditambal dengan Xabi Alonso–yang kebetulan punya skill passing yang lebih istimewa. Di Liverpool bahkan dibuat sistem 4-2-3-1 dengan Xabi Alonso menempati salah satu dari dua jangkar itu, bertandem dengan Javier Mascherano, supaya dominasi penguasaan bola dapat berlanjut dengan mendikte permainan.
Untuk tim Spanyol, karena tipe striker-nya lebih fleksibel (Villa dan Torres sama-sama bisa bermain lebih turun ke dalam) malah tersedia 2 alternatif. Yang pertama, tetap mempertahankan 4-4-2 atau 4-1-3-2 dengan menempatkan Xabi Alonso menjadi gelandang murni; atau yang kedua memodifikasi sistem menjadi 5 gelandang, 4-2-3-1 atau 4-1-4-1 dengan opsi mengaktifkan sayap sebagai supporting striker.
Pilihan kedua secara matematis lebih safe dan jumlah serangan mestinya lebih membuat lawan keteteran, tapi memang secara kebintangan jadi harus memilih antara David Villa dan Torres karena hanya ada 1 slot striker.
Kecuali bila berhadapan dengan lawan yang sangat mengandalkan fisik, kalau saya, saya akan pilih Torres sebagai starter karena tipe permainannya lebih “kavaleri”, inisiator pendobrak. Villa masuk bila dibutuhkan extra cutting-edge semacam posisi seri atau belum aman (hanya unggul 1 gol, misalnya), apakah dengan mengganti Torres atau mengorbankan salah satu gelandang atau bahkan pemain bertahan.
Sebenarnya, umpama dipanggil oleh Luis Aragones, ada beberapa pemain lain yang sama-sama dahsyat di sayap, terutama sayap kanan, misalnya Luis Garcia (Atletico Madrid, ex Liverpool) dan Joaquin (Valencia). Ada juga David Albelda (Valencia) untuk posisi gelandang bertahan dan Vicente (Valencia) sebagai alternatif sayap kiri, juga Asier del Horno (Valencia) sebagai bek atau bek sayap kiri. Tapi entah kenapa mereka tidak masuk skuad, mungkin cedera.

