You are currently browsing the monthly archive for Mei 2008.

Main Boom Boom Car di Jakarta; sama-sama suka mobil

Mengherankan, sedikit sekali kemiripan karakter antara aku dan Papaku.

Dia jago jualan, aku payah jualan. Dia pelit, aku boros. Di sungai yang berarus deras dia bisa tenang, sementara aku yang di sungai berarus tenang malah lebih sering stres.

Soal bahasa, ia juga cukup mahir berbahasa Mandarin. Bandingkan dengan aku yang nyaris blank (tinggal tampang doang yang Chinese :p). Sebaliknya kalau bahasa Inggris–dan mudah-mudahan tak lama lagi Perancis–aku yang lebih bisa, dia payah banget. Satu-satunya kemiripan sepertinya hanya sama-sama suka makan dan suka nyetir, makanya kami berdua kadang rela menempuh jarak jauh demi berburu makanan enak, dan tetap tidak merasa sinting, hehehe…

Mungkin itulah yang tetap menyatukan kami berdua, entah berapa jauh atau jarang kami bertemu.

Per hari ini, 22 Mei 2008, aku pindah “rumah” ke istevie.wordpress.com. Selamat tinggal stevie18181.blogspot.com, 40 bulan yang menyenangkan. Takkan sampai sejauh ini tanpamu.

iStevie @Blogspot (Feb 2005 - May2008)


Sebetulnya sayang terbang pulang dari hometown sore hari. Umpama ada flight besok paginya aku pasti akan pilih pagi. Selain jarang sekali delay, terbang pagi juga menyisakan hawa yang enak, plus bisa ekstra semalam lagi.

Sayangnya penerbangan Air Asia dari Surabaya ke Jakarta paling awal sudah jam 2.45 siang, jadi harus pulang dari malam sebelumnya. Mungkin karena kali ini jumlah penumpangnya nanggung, penerbangan malam itu pun dialihkan ke penerbangan sebelumnya di sore hari.

Walaupun waktu di hometown terpotong lagi beberapa jam, toh penerbangan sore hari juga memberikan kepuasan tersendiri. Apa lagi kalau bukan pemandangan langit matahari terbenam dari jendela. Warna langit yang biru bercampur merah muda, dan awan-awan yang ada di bawah kita.

Pemandangan kali ini memang belum seindah pemandangan sunset pertama waktu itu–yang sayangnya lupa aku potret–tapi tetap saja meneduhkan hati. Serasa sedang menjadi saksi sebuah lukisan yang sangat indah, di kanvas yang tak terhingga luasnya. Kalau saja ada yang bisa diajak berbagi bersama keindahan hidup ini…

Setelah merasakan 3 kali pindah kerja dalam kurang dari 5 tahun, ada kejanggalan yang terjadi hampir di setiap tempat yang aku singgahi: atasanku pindah.

Tentunya memang sudah rencana masing-masing, tapi kok kejadiannya pas aku belum lama bergabung. Jadinya sempat terlintas di perasaanku, apa aku ini biang bikin bos pindah…

Yang pertama terjadi sekaligus 2 orang yang resign–satunya beralih ke posisi yang lebih strategis di belakang layar, satunya lagi bener-bener resign dan alih bidang ke seni murni. Keduanya sudah mengabdi 18 tahun dan 13 tahun saat resign.

Kejadian kedua, di perusahaan berikutnya, bos yang sudah mengabdi 11 tahun juga resign menjelang hampir setahun sejak aku bergabung, justru pas lagi asik-asiknya kerja bareng dia. Lalu yang terakhir, di perusahaan berikutnya lagi, Group Head yang baru sama-sama bergabung hampir tiga bulan lalu juga resign–buka usaha sendiri bersama teman-temannya–juga pas lagi asik-asiknya chemistry di tim kami.

Di satu sisi ikut senang melihat teman bergerak maju, baik itu pindah ke posisi yang lebih strategis, pindah ke perusahaan yang lebih bagus, menemukan profesi baru yang lebih disukainya, atau bahkan memulai usahanya untuk menjadi lebih mandiri. Tapi bagaimanapun kehilangan bukan hal yang mudah untuk dihadapi, apalagi bila itu adalah kehilangan mitra kerja yang selaras dan sevisi.

Lebih kehilangan lagi ketika mengingat belum banyak project berarti yang terealisasi selama kerja bareng. Seandainya saja sedikit lebih panjang kebersamaan itu, sampai sempat bikin “sesuatu” dulu, mungkin perpisahan itu tidak akan terasa sedemikian berat. Atau malah tambah berat lagi? Ah, entahlah…

Itulah manusia, sulit merasa cukup, dan selalu kurang siap untuk berpisah. Lupa bahwa setiap orang hakikatnya adalah jiwa yang bebas, dan kebersamaan apa pun cepat atau lambat pasti akan berakhir.

Dalam mencari teman, kebanyakan orang tentunya cenderung lebih suka (dan lebih nyaman) bersama teman yang memiliki interest yang sama. Tapi situasi ini bisa berubah menjadi aneh ketika interest itu adalah gebetan yang sama.

Misalnya seperti pengalaman bertahun-tahun yang lalu, di mana aku dan seorang temanku naksir cewek yang sama, Winona Cheung (wajahnya mirip Maggie Cheung, tapi dandanan dan rambut cepaknya mirip Winona Ryder). Untuk menambah lebih tolol, nama kami sama-sama berawalan “S”. Hehehe… jadi ibaratnya S1 dan S2 (untung inisialnya bukan “B”, kalo nggak bisa jadi anjing dan babi :p).

Dalam pertemanan, tentunya, selain saling jujur dan berbagi suka-duka bersama, ada juga semacam hukum tidak tertulis (atau kesepakatan) untuk saling mendukung. Yang kemudian jadi aneh adalah pada kondisi naksir cewek yang sama itu, kedua orang yang saling berteman ini kemudian sekaligus saling berebut. Begitu pula kalau mengincar posisi yang sama di sebuah kantor, atau di sebuah tim sepakbola, atau klien yang sama–walaupun tidak sesulit naksir cewek yang sama tadi. Banyak pertemanan yang kandas gara-gara situasi aneh ini.

Memang susah memilih antara teman dan pasangan. Sebagian orang mengorbankan temannya demi pasangan, tapi ternyata pasangan yang dibela-belain itu bukanlah jodohnya, kemudian mereka berpisah dan orang itu kehilangan kedua-duanya. Sebagian lagi memilih temannya dan mengorbankan pasangannya–berpegang pada prinsip bahwa pertemanan itu abadi dan tidak mungkin dikorbankan–tapi kemudian ia tak kunjung menemukan pasangan yang lebih ideal daripada cewek itu, dan berakhir dengan antara tidak pernah menikah atau kawin-cerai hingga beberapa kali.

Memilih dua-duanya malah lebih ruwet lagi, ibarat bikin iklan yang mengandung dua pesan utama sekaligus (nggak jelas maunya apa), seperti yang dilakukan S1 dan S2 ini. Akhirnya sudah sempat terjadi persaingan tetap tidak ada di antara mereka yang mendapatkan si cewek, walaupun masih melegakan ketika di kemudian hari mereka bertiga masih bisa berteman dan tidak saling menyimpan sakit hati.

Sebenarnya masih tersisa cinta buat Winona di hati S1, walau ia tak lagi berharap akan bisa lebih dari just friends. Buktinya ia sulit melupakan hari ulang tahunnya, dan tiap hari terakhir di bulan April mengucapkan Happy Birthday–apakah itu telepon, SMS, atau sekedar message di Friendster atau email–yang tak terasa kali ini sudah ke-27, bukan lagi ke-17. Sementara S2 memilih berpasangan dengan cewek lain yang mencintainya, lalu menikahinya. Sekarang mereka sudah dikaruniai seorang anak.

Tahun demi tahun berlalu, S1 akhirnya berhasil memaafkan dirinya yang tolol tidak tegas itu, dan jatuh cinta lagi kepada cewek lain. Sayangnya, kali ini ia kembali harus menghadapi situasi aneh yang sama: bersaing dengan teman sendiri. Lagi.

Tuan Rumah

Kuli yang pengen hidup lebih simpel dan kreatif. Semoga bukan mimpi yang terlalu muluk.

e: stevie.sulaiman@gmail.com

kalender

Mei 2008
M S S R K J S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

garasi

iStevie 2.0