“Putra Boné yuk,” ajak Boné, eh Boni, and the gang saat makan siang.
Kami berlima pun melesat dengan sedan putihnya menuju kawasan pusat perdagangan Sudirman (SCBD; halah :p). Di kawasan yang penuh gedung modern itu ternyata ada sebuah jalan kecil menurun, dengan pohon-pohon rimbun di kanan-kiri jalan, dan beberapa meter dari jalan utama sampailah kami ke tempat makan siang yang dimaksud, yang berada di antara kedai-kedai lain dan membentuk semacam pujasera mini.
Karena datang pas “prime-time” kami akhirnya harus rela bersabar menunggu tempat karena semua meja penuh. Karena penuh sesak, plus siang hari dan menunya ikan bakar, akhirnya suasana jadi panas banget.
“Es tehnya dua ya,” pesanku kepada salah satu pelayan. Lalu kami juga memesan lima porsi paket ikan ayam-ayam. Ini pertama kalinya aku makan ikan ini. Yah, pokoknya percaya ama selera yang sudah pernah makan aja deh, pikirku.
Dan… setelah cukup lama bersabar (antreannya banyak euy) akhirnya pesanan kami datang: seekor ikan untuk tiap orang, plus nasi putih, lalapan, dan racikan bumbu khas Ujung Pandang yang terdiri dari campuran bumbu kacang berempah, irisan cabe rawit, irisan mangga muda (pencit) dan tomat. Racikan bumbu ini kemudian dicampur dengan kecap manis buat dicocol sama si ikan. Rasanya? Mak nyuss… Saking mak nyuss-nya sampai kami pada nambah nasi putih lagi.
Selesai makan baru terasa hawa panasnya. Lalu kami pun pindah ke meja yang di halaman, yang dipayungi pohon-pohon rimbun dan sebelumnya penuh dipadati kalangan pekerja kantoran yang makan siang itu. Hawa sejuk segera menetralisir gerah, dilanjutkan dengan beberapa di antara kami memesan es podeng–menu favorit kedua di komplek pujasera mini ini setelah ikan bakar–sebelum kemudian balik ke kantor. Ah suksesnya makan siang kali ini.
PS: Makasih ya, Bon. (Boni dan Boné :p)

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini