You are currently browsing the daily archive for Mei 29th, 2008.

“Putra Boné yuk,” ajak Boné, eh Boni, and the gang saat makan siang.

Kami berlima pun melesat dengan sedan putihnya menuju kawasan pusat perdagangan Sudirman (SCBD; halah :p). Di kawasan yang penuh gedung modern itu ternyata ada sebuah jalan kecil menurun, dengan pohon-pohon rimbun di kanan-kiri jalan, dan beberapa meter dari jalan utama sampailah kami ke tempat makan siang yang dimaksud, yang berada di antara kedai-kedai lain dan membentuk semacam pujasera mini.

Karena datang pas “prime-time” kami akhirnya harus rela bersabar menunggu tempat karena semua meja penuh. Karena penuh sesak, plus siang hari dan menunya ikan bakar, akhirnya suasana jadi panas banget.

“Es tehnya dua ya,” pesanku kepada salah satu pelayan. Lalu kami juga memesan lima porsi paket ikan ayam-ayam. Ini pertama kalinya aku makan ikan ini. Yah, pokoknya percaya ama selera yang sudah pernah makan aja deh, pikirku.

Dan… setelah cukup lama bersabar (antreannya banyak euy) akhirnya pesanan kami datang: seekor ikan untuk tiap orang, plus nasi putih, lalapan, dan racikan bumbu khas Ujung Pandang yang terdiri dari campuran bumbu kacang berempah, irisan cabe rawit, irisan mangga muda (pencit) dan tomat. Racikan bumbu ini kemudian dicampur dengan kecap manis buat dicocol sama si ikan. Rasanya? Mak nyuss… Saking mak nyuss-nya sampai kami pada nambah nasi putih lagi.

Selesai makan baru terasa hawa panasnya. Lalu kami pun pindah ke meja yang di halaman, yang dipayungi pohon-pohon rimbun dan sebelumnya penuh dipadati kalangan pekerja kantoran yang makan siang itu. Hawa sejuk segera menetralisir gerah, dilanjutkan dengan beberapa di antara kami memesan es podeng–menu favorit kedua di komplek pujasera mini ini setelah ikan bakar–sebelum kemudian balik ke kantor. Ah suksesnya makan siang kali ini.

PS: Makasih ya, Bon. (Boni dan Boné :p)

Sementara yang lain mengejar prestasi di panggung pariwara, diam-diam kelompok satu ini berusaha mengukir prestasi di tempat lain: lapangan futsal.

Senang sekali bisa menjadi bagian dari tren futsal yang marak di kalangan profesional akhir-akhir ini. Setelah lelah dan stres menjalani kewajiban di office-hour, tak ada salahnya menyepak si bundar di after-hour.

Dalam dua bulan terakhir sudah keempat kalinya kami sekantor bertanding futsal dengan rekan-rekan kantor lain–kebiasaan yang dulu juga sempat akrab aku ikuti selama di kantor lama. Sayangnya memang masih belum banyak yang berpartisipasi (mungkin karena sibuk menyiapkan diri di panggung pariwara itu tadi :p), jadi skuad cadangannya masih kurang. Konsekuensinya stamina memang jadi agak terkuras. Tapi nggak papa, namanya juga masih baru. Perlahan tapi pasti, kalau kami tekun dan kompak tentunya stamina masing-masing akan bertambah seiring rutinnya kami berolahraga dan bertanding. Apalagi banyak di antara kami yang tidak merokok, sepertinya layak kalau kami seoptimis ini.

Pertandingan malam ini memang termasuk sepi, kami hanya bertujuh. Itu pun kami sedang kurang beruntung karena tidak berhasil mendapatkan jadwal lapangan yang jam tujuh, sehingga kami harus menunggu hingga setengah sepuluh malam baru mulai bertanding.

Tapi halangan di awal tadi–plus ada sedikit miskomunikasi sehingga tiga di antara kami sempat nyelonong ke lapangan di Senayan–terbayar lunas dengan 17 gol yang mengungguli 8 gol lawan. Itu pun 3-4 gol lawan terjadi di 15-20 menit terakhir, saat sebagian dari kami sudah kepayahan. Praktis dalam ball possession kami unggul, begitu pula goal attempts dan pass completion. Itu masih belum ditambah beberapa tembakan yang terlampau tergesa sehingga melenceng ke sana kemari atau membentur tiang (ada mungkin sepuluh tembakan meleset).

Aku juga puas sekali bisa menutup pertandingan ini dengan 1 gol, walaupun itu berbau kebetulan. Lha maksudnya umpan terobosan eh kekencengan nendang, jadinya kipernya salah antisipasi dan bola nyelonong masuk sudut kanan bawah kiper, hehehe…

Jarang-jarang nih bisa bikin gol (terakhir tahun lalu, pas masih bareng kantor lama). Namanya juga tukang air, bagian yang nggak enak nggak enak gitu deh. Bentengin serangan, ngerebut bola, dan sesekali marking pemain yang licin-licin itu. Memang ini peran yang cocok buatku, bagian yang di belakang layar, yang tanpa memikul beban harus mencetak gol. Tambah stres euy mikirin harus nyetak gol, kayak mikirin harus menang award :p jadinya malah nggak maksimal. Mending lepas gini, jadi seperti Emmanuel Petit atau Javier Mascherano, bagian ngerusak irama permainan lawan, ngasih umpan, sama sesekali kalau lagi dapet posisi bagus ya tembak jarak jauh atau nyelip maju ke depan buat nyetak gol.

Sniper, sniper… haiya, kapan “perang” Call Of Duty lagi?

PS: Hati-hati ya, next opponent. Siapin kiper yang bagus :p

Tuan Rumah

Kuli yang pengen hidup lebih simpel dan kreatif. Semoga bukan mimpi yang terlalu muluk.

e: stevie.sulaiman@gmail.com

kalender

Mei 2008
M S S R K J S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

garasi

iStevie 2.0