Bagi banyak pemain sepakbola, khususnya striker, usia di atas 31 tahun merupakan lampu kuning bagi karier profesionalnya. Tapi ternyata tidak bagi ikon Juventus, Alessandro Del Piero.

Sempat menjadi langganan timnas Italia sejak pertengahan 1990-an, Alex mengalami cedera lutut serius di musim 1998/1999 yang mengharuskannya absen hingga penghujung musim itu. Bencana yang membuat Marcello Lippi pusing mencari striker pengganti untuk mendampingi Filippo Inzaghi di lini depan Juventus saat itu, dan tak juga menemukannya–bahkan setelah membeli Esnaider dan Thierry Henry sekaligus. Juventus pun harus merelakan gelar scudetto-nya lepas ke Milan, yang saat itu memang sedang memuncak di bawah asuhan Alberto Zaccheroni.

Sekembalinya di musim 1999/2000, Del Piero belum juga menemukan bentuk permainan terbaiknya kembali. Hampir semua golnya musim itu diperoleh dari titik penalti, dan jumlah totalnya pun jauh dari memuaskan. Butuh kesabaran dan ketekunan bertahun-tahun sebelum dunia bisa melihat kembali aksi seorang Del Piero–setelah bertahan melewati persaingan dengan David Trezeguet dan Fabrizio Miccoli di klub, serta Francesco Totti di tim nasional. Senang sekali melihat trademark finishing-nya mengoyak gawang Jerman di Piala Dunia 2006 sekaligus memastikan langkah Italia ke final, yang berakhir dengan gelar juara.

Sepertinya masih akan lama sebelum Juventus dan Italia menemukan pengganti seorang Alessandro Del Piero, yang baru saja merayakan musim comeback-nya ke Serie A pasca-degradasi dengan menjadi pencetak gol terbanyak, 21 gol, justru di usianya yang sudah 33 tahun.

Dan tak ada yang lebih baik bagi para Juventini selain melihat legendanya kembali bersinar, walau mungkin hanya untuk tak berapa lama lagi. Viva Alex!