You are currently browsing the daily archive for Mei 26th, 2008.
Bagi banyak pemain sepakbola, khususnya striker, usia di atas 31 tahun merupakan lampu kuning bagi karier profesionalnya. Tapi ternyata tidak bagi ikon Juventus, Alessandro Del Piero.
Sempat menjadi langganan timnas Italia sejak pertengahan 1990-an, Alex mengalami cedera lutut serius di musim 1998/1999 yang mengharuskannya absen hingga penghujung musim itu. Bencana yang membuat Marcello Lippi pusing mencari striker pengganti untuk mendampingi Filippo Inzaghi di lini depan Juventus saat itu, dan tak juga menemukannya–bahkan setelah membeli Esnaider dan Thierry Henry sekaligus. Juventus pun harus merelakan gelar scudetto-nya lepas ke Milan, yang saat itu memang sedang memuncak di bawah asuhan Alberto Zaccheroni.
Sekembalinya di musim 1999/2000, Del Piero belum juga menemukan bentuk permainan terbaiknya kembali. Hampir semua golnya musim itu diperoleh dari titik penalti, dan jumlah totalnya pun jauh dari memuaskan. Butuh kesabaran dan ketekunan bertahun-tahun sebelum dunia bisa melihat kembali aksi seorang Del Piero–setelah bertahan melewati persaingan dengan David Trezeguet dan Fabrizio Miccoli di klub, serta Francesco Totti di tim nasional. Senang sekali melihat trademark finishing-nya mengoyak gawang Jerman di Piala Dunia 2006 sekaligus memastikan langkah Italia ke final, yang berakhir dengan gelar juara.
Sepertinya masih akan lama sebelum Juventus dan Italia menemukan pengganti seorang Alessandro Del Piero, yang baru saja merayakan musim comeback-nya ke Serie A pasca-degradasi dengan menjadi pencetak gol terbanyak, 21 gol, justru di usianya yang sudah 33 tahun.
Dan tak ada yang lebih baik bagi para Juventini selain melihat legendanya kembali bersinar, walau mungkin hanya untuk tak berapa lama lagi. Viva Alex!
Lama tak menengok daerah Citra Land, saat pulang Surabaya beberapa hari kemarin akhirnya kesampaian mampir.
Daerah yang tadinya terpencil ini (dari rumahku yang sudah masuk wilayah Surabaya Barat saja masih harus menempuh 7-8 kilometer lagi ke Barat; weleh!) makin ramai dan cantik saja dengan bertambahnya resto/kafe di daerah sana. Kebetulan daerahnya juga lebih hijau daripada bagian Surabaya yang lain, plus cuaca akhir pekan lalu sedang bersahabat.
Aku dan teman-teman lalu mencoba resto baru yang bernama Kahyangan, tak jauh dari komplek resto/kafe outdoor di G-Walk (mirip dengan Benton Junction di Karawaci). Saat baru masuk aku agak déjà vu dengan resto-resto Tugu Group karena resto ini bernuansa etnik, dandanan dan perabotannya vintage, dan lampunya serba remang-remang. Melihat nama-nama aneh di daftar menu makin mirip saja dengan suasana makan di resto-resto itu.
Yah, tapi seperti kata Nagabonar, “itu tidak penting”. Kami memang tidak sedang serius berwisata kuliner, dan hidangan demi hidangan lezat itu–mulai dari gurami bakar, ayam goreng kremes, hingga cumi dan aneka sayuran yang menggugah selera–dengan lahapnya kami nikmati sampai habis tanpa protes. Dan rasanya memang enak, terlebih karena juga tidak perlu ditebus dengan harga yang terlalu mahal–cukup sekitar Rp 35.000 per orang.
Brengseknya memang rencana diet jadi bubar, padahal badan sudah sedemikian melar. Lha salah sendiri pengen diet kok malah ke Surabaya. Cah gendeng…
PS: Kamsia ya, Ndog, udah dikasih tau tempat makan baru yang enak.

