Dalam mencari teman, kebanyakan orang tentunya cenderung lebih suka (dan lebih nyaman) bersama teman yang memiliki interest yang sama. Tapi situasi ini bisa berubah menjadi aneh ketika interest itu adalah gebetan yang sama.
Misalnya seperti pengalaman bertahun-tahun yang lalu, di mana aku dan seorang temanku naksir cewek yang sama, Winona Cheung (wajahnya mirip Maggie Cheung, tapi dandanan dan rambut cepaknya mirip Winona Ryder). Untuk menambah lebih tolol, nama kami sama-sama berawalan “S”. Hehehe… jadi ibaratnya S1 dan S2 (untung inisialnya bukan “B”, kalo nggak bisa jadi anjing dan babi :p).
Dalam pertemanan, tentunya, selain saling jujur dan berbagi suka-duka bersama, ada juga semacam hukum tidak tertulis (atau kesepakatan) untuk saling mendukung. Yang kemudian jadi aneh adalah pada kondisi naksir cewek yang sama itu, kedua orang yang saling berteman ini kemudian sekaligus saling berebut. Begitu pula kalau mengincar posisi yang sama di sebuah kantor, atau di sebuah tim sepakbola, atau klien yang sama–walaupun tidak sesulit naksir cewek yang sama tadi. Banyak pertemanan yang kandas gara-gara situasi aneh ini.
Memang susah memilih antara teman dan pasangan. Sebagian orang mengorbankan temannya demi pasangan, tapi ternyata pasangan yang dibela-belain itu bukanlah jodohnya, kemudian mereka berpisah dan orang itu kehilangan kedua-duanya. Sebagian lagi memilih temannya dan mengorbankan pasangannya–berpegang pada prinsip bahwa pertemanan itu abadi dan tidak mungkin dikorbankan–tapi kemudian ia tak kunjung menemukan pasangan yang lebih ideal daripada cewek itu, dan berakhir dengan antara tidak pernah menikah atau kawin-cerai hingga beberapa kali.
Memilih dua-duanya malah lebih ruwet lagi, ibarat bikin iklan yang mengandung dua pesan utama sekaligus (nggak jelas maunya apa), seperti yang dilakukan S1 dan S2 ini. Akhirnya sudah sempat terjadi persaingan tetap tidak ada di antara mereka yang mendapatkan si cewek, walaupun masih melegakan ketika di kemudian hari mereka bertiga masih bisa berteman dan tidak saling menyimpan sakit hati.
Sebenarnya masih tersisa cinta buat Winona di hati S1, walau ia tak lagi berharap akan bisa lebih dari just friends. Buktinya ia sulit melupakan hari ulang tahunnya, dan tiap hari terakhir di bulan April mengucapkan Happy Birthday–apakah itu telepon, SMS, atau sekedar message di Friendster atau email–yang tak terasa kali ini sudah ke-27, bukan lagi ke-17. Sementara S2 memilih berpasangan dengan cewek lain yang mencintainya, lalu menikahinya. Sekarang mereka sudah dikaruniai seorang anak.
Tahun demi tahun berlalu, S1 akhirnya berhasil memaafkan dirinya yang tolol tidak tegas itu, dan jatuh cinta lagi kepada cewek lain. Sayangnya, kali ini ia kembali harus menghadapi situasi aneh yang sama: bersaing dengan teman sendiri. Lagi.

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini