You are currently browsing the daily archive for Mei 1st, 2008.
Dalam mencari teman, kebanyakan orang tentunya cenderung lebih suka (dan lebih nyaman) bersama teman yang memiliki interest yang sama. Tapi situasi ini bisa berubah menjadi aneh ketika interest itu adalah gebetan yang sama.
Misalnya seperti pengalaman bertahun-tahun yang lalu, di mana aku dan seorang temanku naksir cewek yang sama, Winona Cheung (wajahnya mirip Maggie Cheung, tapi dandanan dan rambut cepaknya mirip Winona Ryder). Untuk menambah lebih tolol, nama kami sama-sama berawalan “S”. Hehehe… jadi ibaratnya S1 dan S2 (untung inisialnya bukan “B”, kalo nggak bisa jadi anjing dan babi :p).
Dalam pertemanan, tentunya, selain saling jujur dan berbagi suka-duka bersama, ada juga semacam hukum tidak tertulis (atau kesepakatan) untuk saling mendukung. Yang kemudian jadi aneh adalah pada kondisi naksir cewek yang sama itu, kedua orang yang saling berteman ini kemudian sekaligus saling berebut. Begitu pula kalau mengincar posisi yang sama di sebuah kantor, atau di sebuah tim sepakbola, atau klien yang sama–walaupun tidak sesulit naksir cewek yang sama tadi. Banyak pertemanan yang kandas gara-gara situasi aneh ini.
Memang susah memilih antara teman dan pasangan. Sebagian orang mengorbankan temannya demi pasangan, tapi ternyata pasangan yang dibela-belain itu bukanlah jodohnya, kemudian mereka berpisah dan orang itu kehilangan kedua-duanya. Sebagian lagi memilih temannya dan mengorbankan pasangannya–berpegang pada prinsip bahwa pertemanan itu abadi dan tidak mungkin dikorbankan–tapi kemudian ia tak kunjung menemukan pasangan yang lebih ideal daripada cewek itu, dan berakhir dengan antara tidak pernah menikah atau kawin-cerai hingga beberapa kali.
Memilih dua-duanya malah lebih ruwet lagi, ibarat bikin iklan yang mengandung dua pesan utama sekaligus (nggak jelas maunya apa), seperti yang dilakukan S1 dan S2 ini. Akhirnya sudah sempat terjadi persaingan tetap tidak ada di antara mereka yang mendapatkan si cewek, walaupun masih melegakan ketika di kemudian hari mereka bertiga masih bisa berteman dan tidak saling menyimpan sakit hati.
Sebenarnya masih tersisa cinta buat Winona di hati S1, walau ia tak lagi berharap akan bisa lebih dari just friends. Buktinya ia sulit melupakan hari ulang tahunnya, dan tiap hari terakhir di bulan April mengucapkan Happy Birthday–apakah itu telepon, SMS, atau sekedar message di Friendster atau email–yang tak terasa kali ini sudah ke-27, bukan lagi ke-17. Sementara S2 memilih berpasangan dengan cewek lain yang mencintainya, lalu menikahinya. Sekarang mereka sudah dikaruniai seorang anak.
Tahun demi tahun berlalu, S1 akhirnya berhasil memaafkan dirinya yang tolol tidak tegas itu, dan jatuh cinta lagi kepada cewek lain. Sayangnya, kali ini ia kembali harus menghadapi situasi aneh yang sama: bersaing dengan teman sendiri. Lagi.
by Stevie Sulaiman (Liverpool assistant manager wannabe :p)
9. Torres
7. Kuyt 8. Gerrard
14. Alonso 11. Benayoun
20. Mascherano
6. Riise 5. Agger 4. Hyypia Dani Alves (Sevilla)/Eboué (Arsenal)
25. Reina
(4-3-3)
Subs:
1. Carson/Itandje, 23. Carragher, 37. Skrtel, 12. Aurélio, 3. Finnan, 21. Lucas, Cambiasso (Inter), 16. Pennant, 19. Babel, 10. Voronin, Bendtner (Arsenal)
Outs:
Arbeloa, Kewell, Crouch
Riise melunasi utangnya dengan penampilan yang bagus pada semifinal Liga Champions putaran kedua ini, terlepas dari masih tersisanya kesialannya–dua dari 3 gol Chelsea tercipta setelah melewati dirinya, dan Chelsea pun melaju ke final dengan skor akhir 3-1 (extra-time).
Tapi kedua gol Drogba itu bukan salah Riise.
Gol pertama Drogba terjadi lebih karena baik Alonso maupun Mascherano tidak ada yang mengawal ketat Drogba yang masih di luar kotak penalti, sehingga ketika tembakan Salomon Kalou yang ditepis Reina muntah tanpa terkawal ke Drogba. Begitu pula gol ketiga Chelsea dan kedua Drogba yang berawal dari cross Anelka dari sayap kanan. Walaupun memang Riise yang mengawal Anelka, tapi Carragher dan Hyypia-lah yang terlambat mengantisipasi gerakan Drogba sehingga (lagi-lagi) ia bebas bergerak dan mendapatkan posisi menendang yang leluasa. Tapi bagaimanapun penampilan terburuk tetap lebih pantas diberikan kepada Alvaro Arbeloa, karena kesembronoannya menjaga pertahanan sayap kanan Liverpool membuat Kalou (dan Malouda, penggantinya di sayap kiri Chelsea) leluasa mengobrak-abrik masuk ke daerah penalti. Kesembronoan Arbeloa juga membuat Carragher sering terpancing ikut membendung ke sayap kanan dan meninggalkan jantung pertahanan, begitu pula Dirk Kuyt yang–boro-boro mendapatkan bantuan menyerang–juga sering terpaksa mundur membantu bertahan.
Dengan tidak efektifnya Kuyt di sayap kanan seperti biasanya, otomatis umpan-umpan ke Gerrard maupun Torres lebih mengandalkan operan dari tengah. Dan beruntung Mascherano malam itu, plus Riise yang sering membantu maju ke depan, tak kenal lelah dan tampil maksimal, sehingga Liverpool masih sempat sesekali menembus hingga jantung pertahan Chelsea.
—
Dari starting line-up memang sudah sedikit terbaca pertahanan Liverpool tidak sekuat biasanya. Setelah menemukan formula terbaik saat melawan Arsenal–dengan menggeser Carragher ke bek kanan dan Hyypia-Skrtel berduet di tengah–pelatih Rafa Benitez malah lebih memilih Arbeloa. Mungkin maksudnya supaya bisa sesekali membantu menyerang, karena memang begitulah seringnya dipilih formasi dengan 4 pemain bertahan, apakah itu 4-4-3, 4-3-3, atau 4-5-1, supaya bek kanan dan kiri berfungsi sebagai bek sayap. Tapi sayangnya Arbeloa memang bukan pemain yang cukup baik, walaupun ia punya skill untuk bisa ditempatkan di posisi kanan-kiri-maupun tengah. Antisipasi dan marking-nya kurang baik, ditambah dengan kecepatan larinya yang kurang memadai, sehingga ketika berhadapan dengan pemain sayap yang gesit (dan biasanya yang namanya winger selalu gesit) macam Kalou atau Malouda jadi keteteran. Itu belum ditambah si licin Ashley Cole yang sering membantu maju ke depan, makin kedodoran saja pertahanan di sayap kanan itu.
Bagaimanapun sektor ini memang menjadi sektor lemah Liverpool sepeninggal Markus Babbel (Jerman; dilepas ke Stuttgart 2003/2004 setelah lebih dari setahun menderita sakit saraf misterius dan tidak pernah kembali ke performa terbaiknya selepas itu), dan setelah itu belum ada lagi penerus yang bisa dibilang bagus–mulai dari Abel Xavier, Steve Finnan, hingga Arbeloa. Carragher yang sesekali diplot mengisinya pun masih tergolong lumayan, belum sesolid Babbel atau seeksplosif Jason McAteer (Rep. Irlandia; pindah ke Blackburn Rovers akhir musim 1998/1999).
Tapi setidaknya ini dapat menjadi pekerjaan rumah Rafa untuk musim depan, setidaknya bila ingin membentuk tim yang lebih solid lagi.
—
Pertandingan semifinal putaran kedua ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat, walaupun masih lebih bagus kedua pertandingan melawan Arsenal. Tipe permainan Chelsea yang lebih mengandalkan fisik memang membuat olah bola Liverpool lebih susah berkembang, lebih-lebih strategi (jitu) pelatih Avram Grant yang memplot Michael Essien sebagai bek kanan. Gerakan-gerakan Essien membuat serangan-serangan dari sayap kiri Liverpool banyak yang mentah. Pemain kreatif seperti Yossi Benayoun pun akhirnya di-switch ke kanan supaya bisa lebih efektif, sementara Kuyt yang lebih kuat adu fisik dengan Essien ditukar ke sayap kiri. Pertukaran sayap ini terbukti efektif, dan gerakan Benayoun dari sayap kananlah yang membelah pertahanan Chelsea hingga membuka ruang bagi Torres untuk mencetak gol. 1-1.
Pertandingan kali ini juga menunjukkan skill tambahan Benayoun sebagai gelandang bertahan. Beberapa kali ia melakukan blocking umpan dari tengah dengan bersih dan membuat tugas para bek tengah lebih mudah.
Taktik Rafa memasukkan Jermaine Pennant yang fresh dan gesit memang tepat, tapi sayang Benayoun yang efektif malah dikeluarkan. Mestinya yang ditarik Arbeloa, lalu formasi diubah menjadi 3-5-2 (Kuyt dipindah ke depan), atau tetap 4-5-1 dan memindahkan Steven Gerrard ke bek kanan. Selain lebih gesit untuk membendung Kalou atau Malouda, perpindahan ini mestinya bisa memberikan ruang gerak baru buat Gerrard–yang malam itu sering dikunci dan “disikat” di tengah, sehingga kurang efektif. Dari bek kanan Gerrard juga mungkin bisa kembali memainkan cross-cross maut atau sesekali melakukan tembakan jarak jauh–dua spesialisasinya sebelum skill dribbling dan heading istimewa yang baru didapatkannya musim ini dari Torres. Bila ini dilakukan saat kedudukan 1-1, mungkin ada peluang untuk menambah 1 gol lagi dan memecahkan rekor kandang Chelsea.
Tapi sayangnya itu tidak terjadi, dan Chelsea pun menang. Yo wes… setidaknya kalahnya bukan karena kalah superior tapi karena diri sendiri. Tetap good luck buat Chelsea. Nggak papa kali ini Liverpool kalah, asal bukan Man United yang juara :p
Le scaphandre et le papillon
(The Diving Bell and The Butterfly)
Perancis | 2007 | Sutradara: Julian Schnabel
Kalau kita sedang menghadapi tantangan hidup yang berat, ada baiknya kita tidak hanya mendongak ngiler melihat mereka yang lebih sukses, kaya, atau mapan, sambil terus meratapi nasib kita yang tak secemerlang mereka–melainkan sesekali melihat ke bawah, ke arah mereka yang nasibnya lebih muram daripada kita, seperti Jean-Dominique Bauby, fashion editor majalah Elle yang tampan, kaya, dan punya kehidupan duniawi yang sangat indah, namun mendadak terserang stroke.
Stroke memang tidak segera merenggut nyawa Jean-Do, panggilan Bauby, pun kewarasannya. Ingatannya juga masih utuh (walau sedang berantakan akibat koma tiga minggu), begitu pula kemampuan berpikir dan berimajinasinya. Namun kerusakan parah pada batang otaknya hanya menyisakan otot mata kirinya yang tetap mampu bekerja normal, sementara fungsi tubuh lainnya dari ujung rambut hingga ujung kaki lumpuh.
Berbeda dengan stroke yang pernah kita jumpai selama ini, yang “hanya” melumpuhkan separuh badan si penderita, stroke yang dialami Jean-Do adalah tipe langka yang diberi istilah “locked-in syndrome”, di mana penderita seperti bisa tetap hidup normal, melihat dan mendengar, tapi orang lain tak bisa mendengarnya atau mengerti gerak-geriknya. Kondisi terisolasi ini yang kemudian oleh Jean-Do (film ini diadaptasi dari memoar yang dikarang oleh Jean-Do sendiri) diibaratkan terkunci dalam sebuah kostum selam (diving bell), dan diam melayang di air, tidak kandas ke dasar (mati) ataupun terapung ke permukaan (sadar)–lalu digambarkan di film oleh sutradara Julian Schnabel seakan-akan kita (pemirsa) sedang mengalami stroke itu.
—
Karena hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui mata kirinya, tim dokter kemudian memberikan metode kriptologi khusus dengan menyusun alfabet berdasarkan huruf yang paling sering digunakan. Dalam bahasa Perancis, karena “E” paling sering digunakan maka ia diletakkan paling depan, menggantikan “A”. Lalu dilanjutkan “S”, abjad paling sering digunakan kedua, menggantikan “B”, begitu seterusnya.
Setelah Jean-Do dilatih oleh dokter Henriette Durand–diperankan Marie-Josée Crozée (Ararat, 2002; The Barbarian Invasions, 2003)–hingga menguasai teknik dikte ini, barulah kemudian ia dapat sedikit menikmati kembali hidup normalnya, begitu pula mengarang memoar yang penulisannya dibantu oleh seorang narator, Claude.
Memoar itu antara lain berkisah tentang hubungannya dengan sang ayah, kehidupan pekerjaannya, mantan kekasihnya, Céline, dan ketiga anak mereka; serta tak lupa kekasihnya yang terakhir, Joséphine, lengkap beserta pengalaman mereka bercumbu di tepi pantai, dan bertengkar di sebuah kios di Lourdes gara-gara Jean-Do yang entah atheis atau agnostik itu menolak membelikan Joséphine sebuah patung Madonna (Santa Maria yang sedang diberkati, dan kepalanya diterangi oleh halo).
Setelah bertengkar hingga Joséphine mengancam putus, Jean-Do akhirnya membelikan Joséphine patung seharga 1.899 francs yang halo-nya bisa menyala itu dan mereka berdamai kembali, tapi kembali bertengkar ketika mereka sedang bercinta di sebuah motel (masih di Lourdes) dan Joséphine memaksa ingin menyalakan lampu di patung itu saat mereka tengah bercinta. Jean-Do yang be-te terus berbeda pendapat dengan Joséphine mengancam putus sepulang dari Lourdes, tapi hingga ia jatuh stroke Ines masih meneleponnya dan mengatakan ia masih menunggunya, yang kemudian dijawab senada oleh Jean-Do melalui kedipan matanya–yang diterjemahkan kepada Joséphine dengan bantuan Céline yang sedang mendampingi Jean-Do.
—
Tapi rupanya tak cukup hanya Joséphine dan Céline wanita yang mengisi hari-hari Jean-Do setelah ia terserang stroke. Fisioterapisnya yang cantik dan seksi, Marie Lopez (diperankan Olatz López Garmendia, yang tak lain adalah istri sutradara Julian Schnabel sendiri), juga ditaksirnya, apalagi ketika ia melatih Jean-Do menggerakkan lidahnya untuk bisa menelan obat. Melihat bibir dan lidah si fisioterapis yang memeragakan seperti sedang mencium dan menjilat, Jean-Do seperti terangsang secara seksual, namun apa daya ia sedang lumpuh total. “Oh, ini tidak adil. Aku sedang lumpuh,” sambil dengan kecutnya bersebal dalam hati :p
Saat berdua dengan Claude di sebuah padang rumput, matanya juga sering menatap rok yang tersapu angin dan memperlihatkan daerah pahanya. Dari situ imajinasi Jean-Do berkembang hingga membayangkan mereka sedang makan sambil berciuman mesra di sebuah resto Perancis mewah, lengkap dengan beragam menu dan pelayan yang tak henti menyajikan makanan. Tapi lagi-lagi, seandainya saja ia tidak lumpuh… Seandainya ia tidak lumpuh, mungkin ia takkan pernah bertemu dengan Claude, Marie Lopez, dan dokter Henriette, si speech therapist.
Inilah sisi manusiawi yang lucu sekaligus menyentuh yang terungkap secara jujur dari sekadar memoar seorang cacat. Bukannya sedih dan penuh ratap–seperti mungkin dugaan banyak orang yang enggan menontonnya–tapi malah mengandung tawa, sebal bercampur haru, sambil juga bersimpati dan respek terhadap semangat hidup Jean-Do. Kelumpuhan ternyata tidak mampu mengunci energi kehidupannya, dan bagai kupu-kupu dewasa ia menyeruak keluar dari kepompongnya, terbang bebas menikmati kehidupannya yang tersisa.
Semoga banyak kupu-kupu lain yang lahir dan mewarnai kehidupan ini. Merayakannya, walau di kehidupan yang singkat ini.
Bulan April-Mei dan awal Desember tiap tahun memang selalu menjadi “musim” yang aku nantikan. Selain biasanya banyak kerjaan lagi produksi atau tayang–which is portfolio bertambah–di luar dunia kerja juga sedang musim festival film. Selain JIFFest di awal Desember, pada bulan April atau Mei di Jakarta sedang ada Festival Film Perancis, yang tahun ini memasuki tahun ke-13.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini tampak kurang persiapan. Terlihat dari minimnya informasi mengenai tanggal penyelenggaraan, baik di website maupun di bioskop tempat penyelenggaraan. Praktis baru seminggu sebelum pembukaan poster festival baru bertebaran di website dan CCF, tempat les Perancisku. Itu pun loket yang berjualan di Blitz Megaplex, salah satu venue, sempat tutup selama 1 hari, tanpa pemberitahuan, bikin orang kecele. Beruntung akhirnya di CCF juga ada loket penjualan tiket, sehingga aku tidak perlu buru-buru pulang kantor ke Blitz lagi.
Salah satu film yang aku incar adalah Poltergay, drama komedi tentang sepasang suami-istri yang membeli rumah tua yang ternyata bekas klab disko gay, di mana dua puluh sekian tahun sebelumnya terjadi kecelakaan listrik dan 5 orang gay meninggal. Hantu-hantu gay itu kemudian gentayangan di rumah, mengusili si lelaki, menampakkan diri kepadanya, namun tidak bisa dilihat oleh istrinya. Terbayang bakal lucu banget tuh film, plus karena diputar saat Sabtu malam, aku pun berencana beli 4-5 tiket untuk dibagi ke beberapa teman dan nonton bareng. Sayang saat itu hanya tersisa 2 tiket.
—
Selain Poltergay, tidak terasa akan ada film-film yang istimewa–kecuali closing film, Le scaphandre et le papillon (The Diving Bell and The Butterfly), yang tentunya nggak bisa aku beli tiketnya karena hanya diperuntukkan bagi undangan. Itu sebabnya aku tidak terlalu berharap pada festival kali ini. Tidak berharap akan ada masterpiece macam Paris je t’aime, Mon meilleur ami, atau drama seksi seperti Quand j’étais chanteur seperti tahun lalu–yaa… paling-paling cari yang ringan-ringan saja macam Poltergay gitu.
Tapi ternyata aku salah.
Walaupun sempat kelewatan 2 film di hari pertama, dokumenter Lagerfeld confidentiel dan Mauvaise foi, hari keduaku langsung sukses berat. Selain karena hari kedua itu pas Minggu dan bisa memborong 4 film sekaligus, dua di antaranya bagus banget, yaitu Ma vie en l’air (Love Is In The Air) dan La vie d’artiste (The Artist’s Life).
Yang mengesankan dari Ma vie en l’air, cerita yang tampak linier itu ternyata sarat simbol. Dan simbol terkuat adalah karakter sahabat loser, yang sebelumnya serba tidak mandiri dan selalu merepotkan Yann (diperankan Vincent Elbaz) bagai seorang adik manja terhadap kakaknya, tapi ternyata malah bisa go-on dengan hidupnya. Sementara Yann, di balik penampilannya yang rapi dan hidup serba lancar itu–punya apartemen dan punya pekerjaan layak–ternyata tidak bisa lepas dari masa lalunya. Ia terus ingin kembali ke cinta pertamanya, dan hampir kehilangan cinta sejatinya. Dan kisah romantis unik ini terfilmkan dengan sempurna dengan kehadiran Marion Cotillard, tentunya juga dengan dukungan musik dan sinematografi yang begitu menarik.
La vie d’artiste juga tak kalah menarik.
Kalau biasanya kita selalu disuguhi kisah seniman sukses, maka ini adalah sisi sebaliknya: kisah seniman gagal. Bahkan begitu gagalnya, sehingga belum bisa disebut seniman. Teknik bercerita mosaik (yang populer akhir-akhir ini) menyatukan tiga karakter–Alice (diperankan Sandrine Kiberlain), dubber film kartun yang ingin menjadi aktris; Bertrand (Denis Podalydes), guru sastra yang ingin jadi penulis; dan Cora (Emilie Dequenne), MC sebuah karaoke yang ingin menjadi penyanyi populer–di mana ketiganya mewakili tiga medium seni, yaitu seni visual, verbal, dan musikal.
Baik Alice, Bertrand, maupun Cora, yang merasa punya bakat seni, dikisahkan tidak puas dengan profesinya, dan berusaha mengejar profesi impiannya namun gagal. Alice gagal dalam berbagai casting dan tak kunjung mendapatkan perannya. Buku Bertrand berhasil diterbitkan namun tak ada yang membelinya, bahkan tak ada yang mendatangi acara penandatanganan di hari pertama penerbitannya. Untuk menghibur, asisten pemilik toko buku memanggil seorang wanita yang melintas di depan tokonya–ternyata Alice–untuk pura-pura mengagumi buku Bertrand dan minta tanda tangannya, tapi sandiwara buyar ketika ia salah menganggap si pemilik toko buku sebagai Bertrand. “Umm, penulisnya yang ini,” kata si pemilik toko buku sambil menunjuk ke Bertrand yang duduk di sebelahnya, tersenyum masam :p Untuk menambah lebih parah, Alice kemudian minta maaf sambil mengaku bahwa ia diminta oleh seseorang saat di luar toko untuk pura-pura minta tanda tangan karena tak ada satu pun pengunjung yang datang ke acara launching buku Bertrand. Dhuar!
Nasib Cora tak kalah trenyuhnya. Karena tak tahan melihat pengunjung karaoke menyanyi salah-salah dan jelek, ia yang sebenarnya hanya MC lalu mengambil mikrofon, membantu menyanyi dan bablas tak berhenti menyanyi terus, terbawa suasana. Pengunjung sebal, dan ia pun dipecat dari pekerjaannya. Ia lalu terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, dan setelah sial menumpahkan wine saat membukakan bagi salah satu tamu restoran–Bertrand dan muridnya–ia diturunkan lagi posisinya. Cora yang cantik dan seksi itu pun harus mengenakan kostum beruang gendut, maskot restoran, dan berjaga di luar restoran sambil menawarkan brosur.
—
Dua film istimewa lainnya adalah La vérité ou presque (True Enough), tentang perselingkuhan antar dua pasang suami-istri, di mana istri lelaki pertama adalah bekas istri lelaki kedua; dan Michou d’Auber, drama tentang konflik politik sosial antara ras Perancis dan muslim Aljazair di era 1960-an.
Diperankan oleh Gerard Depardieu, Georges adalah seorang veteran tentara Perancis yang fanatik terhadap bangsanya. Begitu fanatiknya, hingga sang istri, Gisele (Nathalie Baye), diam-diam berubah dari mencintainya menjadi takut kepadanya. Kehilangan anak satu-satunya memperdingin hubungan pasangan ini, dan sang istri berusaha mengadopsi anak untuk menggantikan anak mereka yang meninggal itu.
Messaoud, 9 tahun, adalah seorang anak imigran Aljazair di Aubervilliers, Perancis. Karena ketidakstabilan politik dan ibu yang sakit keras ia harus berpisah dengan orang tuanya. Ia lalu bersama Abdel, kakaknya, dititipkan oleh sang ayah di yayasan sosial penitipan anak, yang kemudian mengantarkan Messaoud pada Gisele. Ada pun sang kakak diadopsi oleh orang tua lain dan tinggal di desa.
Dari perkenalan yang dingin (Gisele sempat paranoid karena mendapat adopsi keturunan Arab, sehingga melakukan segala cara untuk menyembunyikan identitas Messaoud, termasuk mengecat pirang rambutnya dan mengganti namanya menjadi Michel; dipanggil Michou), Messaoud yang anak adopsi itu perlahan dicintai Georges dan Gisele seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Georges, ketika mulai mencium gelagat anak asuhnya itu Arab dan muslim, bilang kepada Messaoud bahwa siapa pun dan ras apa pun dia, ia tetap akan mencintainya. Begitu pula Messaoud yang juga mencintai kedua orang tua asuhnya itu, ketika kedua orang tuanya bertengkar hebat dan mengarah ke perceraian, ia hadir sebagai pemersatu keduanya.
Hubungan mesra ini kemudian tampak akan berakhir bahagia bagi ketiganya, sebelum datang kembalinya sang ayah dan kakak menjemput Messaoud. Kedatangan sang ayah setelah dua tahun membuat perasaan Messaoud campur aduk, dan karena takut kehilangan Georges dan Gisele ia lalu menyangkal ayah dan kakaknya itu. Tersentuh oleh cinta yang tulus, Georges-lah yang kemudian membujuk Messaoud untuk kembali ke keluarganya.
Inilah film terbaikku pada festival kali ini, dan untuk membuatnya makin sempurna ia ada di urutan terakhir dari total 9 film yang berhasil aku tonton. A perfect end. Un moment culminant.
—
Piccolo, Saxo et Cie
***
Ma vie en l’air
****1/2
La vie d’artiste
****
Les témoins
***
Le voyage du ballon rouge
**1/2
Mon petit doigt m’a dit
*
La vérité ou presque
****
Poltergay
***
Michou d’Auber
*****
* Salah pilih
** Boleh deh, kalau ada waktu
*** Hmm, not bad
**** Special
***** Masterpiece

