You are currently browsing the monthly archive for Mei 2008.
“Putra Boné yuk,” ajak Boné, eh Boni, and the gang saat makan siang.
Kami berlima pun melesat dengan sedan putihnya menuju kawasan pusat perdagangan Sudirman (SCBD; halah :p). Di kawasan yang penuh gedung modern itu ternyata ada sebuah jalan kecil menurun, dengan pohon-pohon rimbun di kanan-kiri jalan, dan beberapa meter dari jalan utama sampailah kami ke tempat makan siang yang dimaksud, yang berada di antara kedai-kedai lain dan membentuk semacam pujasera mini.
Karena datang pas “prime-time” kami akhirnya harus rela bersabar menunggu tempat karena semua meja penuh. Karena penuh sesak, plus siang hari dan menunya ikan bakar, akhirnya suasana jadi panas banget.
“Es tehnya dua ya,” pesanku kepada salah satu pelayan. Lalu kami juga memesan lima porsi paket ikan ayam-ayam. Ini pertama kalinya aku makan ikan ini. Yah, pokoknya percaya ama selera yang sudah pernah makan aja deh, pikirku.
Dan… setelah cukup lama bersabar (antreannya banyak euy) akhirnya pesanan kami datang: seekor ikan untuk tiap orang, plus nasi putih, lalapan, dan racikan bumbu khas Ujung Pandang yang terdiri dari campuran bumbu kacang berempah, irisan cabe rawit, irisan mangga muda (pencit) dan tomat. Racikan bumbu ini kemudian dicampur dengan kecap manis buat dicocol sama si ikan. Rasanya? Mak nyuss… Saking mak nyuss-nya sampai kami pada nambah nasi putih lagi.
Selesai makan baru terasa hawa panasnya. Lalu kami pun pindah ke meja yang di halaman, yang dipayungi pohon-pohon rimbun dan sebelumnya penuh dipadati kalangan pekerja kantoran yang makan siang itu. Hawa sejuk segera menetralisir gerah, dilanjutkan dengan beberapa di antara kami memesan es podeng–menu favorit kedua di komplek pujasera mini ini setelah ikan bakar–sebelum kemudian balik ke kantor. Ah suksesnya makan siang kali ini.
PS: Makasih ya, Bon. (Boni dan Boné :p)
Sementara yang lain mengejar prestasi di panggung pariwara, diam-diam kelompok satu ini berusaha mengukir prestasi di tempat lain: lapangan futsal.
Senang sekali bisa menjadi bagian dari tren futsal yang marak di kalangan profesional akhir-akhir ini. Setelah lelah dan stres menjalani kewajiban di office-hour, tak ada salahnya menyepak si bundar di after-hour.
Dalam dua bulan terakhir sudah keempat kalinya kami sekantor bertanding futsal dengan rekan-rekan kantor lain–kebiasaan yang dulu juga sempat akrab aku ikuti selama di kantor lama. Sayangnya memang masih belum banyak yang berpartisipasi (mungkin karena sibuk menyiapkan diri di panggung pariwara itu tadi :p), jadi skuad cadangannya masih kurang. Konsekuensinya stamina memang jadi agak terkuras. Tapi nggak papa, namanya juga masih baru. Perlahan tapi pasti, kalau kami tekun dan kompak tentunya stamina masing-masing akan bertambah seiring rutinnya kami berolahraga dan bertanding. Apalagi banyak di antara kami yang tidak merokok, sepertinya layak kalau kami seoptimis ini.
Pertandingan malam ini memang termasuk sepi, kami hanya bertujuh. Itu pun kami sedang kurang beruntung karena tidak berhasil mendapatkan jadwal lapangan yang jam tujuh, sehingga kami harus menunggu hingga setengah sepuluh malam baru mulai bertanding.
Tapi halangan di awal tadi–plus ada sedikit miskomunikasi sehingga tiga di antara kami sempat nyelonong ke lapangan di Senayan–terbayar lunas dengan 17 gol yang mengungguli 8 gol lawan. Itu pun 3-4 gol lawan terjadi di 15-20 menit terakhir, saat sebagian dari kami sudah kepayahan. Praktis dalam ball possession kami unggul, begitu pula goal attempts dan pass completion. Itu masih belum ditambah beberapa tembakan yang terlampau tergesa sehingga melenceng ke sana kemari atau membentur tiang (ada mungkin sepuluh tembakan meleset).
Aku juga puas sekali bisa menutup pertandingan ini dengan 1 gol, walaupun itu berbau kebetulan. Lha maksudnya umpan terobosan eh kekencengan nendang, jadinya kipernya salah antisipasi dan bola nyelonong masuk sudut kanan bawah kiper, hehehe…
Jarang-jarang nih bisa bikin gol (terakhir tahun lalu, pas masih bareng kantor lama). Namanya juga tukang air, bagian yang nggak enak nggak enak gitu deh. Bentengin serangan, ngerebut bola, dan sesekali marking pemain yang licin-licin itu. Memang ini peran yang cocok buatku, bagian yang di belakang layar, yang tanpa memikul beban harus mencetak gol. Tambah stres euy mikirin harus nyetak gol, kayak mikirin harus menang award :p jadinya malah nggak maksimal. Mending lepas gini, jadi seperti Emmanuel Petit atau Javier Mascherano, bagian ngerusak irama permainan lawan, ngasih umpan, sama sesekali kalau lagi dapet posisi bagus ya tembak jarak jauh atau nyelip maju ke depan buat nyetak gol.
Sniper, sniper… haiya, kapan “perang” Call Of Duty lagi?
PS: Hati-hati ya, next opponent. Siapin kiper yang bagus :p
Bagi banyak pemain sepakbola, khususnya striker, usia di atas 31 tahun merupakan lampu kuning bagi karier profesionalnya. Tapi ternyata tidak bagi ikon Juventus, Alessandro Del Piero.
Sempat menjadi langganan timnas Italia sejak pertengahan 1990-an, Alex mengalami cedera lutut serius di musim 1998/1999 yang mengharuskannya absen hingga penghujung musim itu. Bencana yang membuat Marcello Lippi pusing mencari striker pengganti untuk mendampingi Filippo Inzaghi di lini depan Juventus saat itu, dan tak juga menemukannya–bahkan setelah membeli Esnaider dan Thierry Henry sekaligus. Juventus pun harus merelakan gelar scudetto-nya lepas ke Milan, yang saat itu memang sedang memuncak di bawah asuhan Alberto Zaccheroni.
Sekembalinya di musim 1999/2000, Del Piero belum juga menemukan bentuk permainan terbaiknya kembali. Hampir semua golnya musim itu diperoleh dari titik penalti, dan jumlah totalnya pun jauh dari memuaskan. Butuh kesabaran dan ketekunan bertahun-tahun sebelum dunia bisa melihat kembali aksi seorang Del Piero–setelah bertahan melewati persaingan dengan David Trezeguet dan Fabrizio Miccoli di klub, serta Francesco Totti di tim nasional. Senang sekali melihat trademark finishing-nya mengoyak gawang Jerman di Piala Dunia 2006 sekaligus memastikan langkah Italia ke final, yang berakhir dengan gelar juara.
Sepertinya masih akan lama sebelum Juventus dan Italia menemukan pengganti seorang Alessandro Del Piero, yang baru saja merayakan musim comeback-nya ke Serie A pasca-degradasi dengan menjadi pencetak gol terbanyak, 21 gol, justru di usianya yang sudah 33 tahun.
Dan tak ada yang lebih baik bagi para Juventini selain melihat legendanya kembali bersinar, walau mungkin hanya untuk tak berapa lama lagi. Viva Alex!
Lama tak menengok daerah Citra Land, saat pulang Surabaya beberapa hari kemarin akhirnya kesampaian mampir.
Daerah yang tadinya terpencil ini (dari rumahku yang sudah masuk wilayah Surabaya Barat saja masih harus menempuh 7-8 kilometer lagi ke Barat; weleh!) makin ramai dan cantik saja dengan bertambahnya resto/kafe di daerah sana. Kebetulan daerahnya juga lebih hijau daripada bagian Surabaya yang lain, plus cuaca akhir pekan lalu sedang bersahabat.
Aku dan teman-teman lalu mencoba resto baru yang bernama Kahyangan, tak jauh dari komplek resto/kafe outdoor di G-Walk (mirip dengan Benton Junction di Karawaci). Saat baru masuk aku agak déjà vu dengan resto-resto Tugu Group karena resto ini bernuansa etnik, dandanan dan perabotannya vintage, dan lampunya serba remang-remang. Melihat nama-nama aneh di daftar menu makin mirip saja dengan suasana makan di resto-resto itu.
Yah, tapi seperti kata Nagabonar, “itu tidak penting”. Kami memang tidak sedang serius berwisata kuliner, dan hidangan demi hidangan lezat itu–mulai dari gurami bakar, ayam goreng kremes, hingga cumi dan aneka sayuran yang menggugah selera–dengan lahapnya kami nikmati sampai habis tanpa protes. Dan rasanya memang enak, terlebih karena juga tidak perlu ditebus dengan harga yang terlalu mahal–cukup sekitar Rp 35.000 per orang.
Brengseknya memang rencana diet jadi bubar, padahal badan sudah sedemikian melar. Lha salah sendiri pengen diet kok malah ke Surabaya. Cah gendeng…
PS: Kamsia ya, Ndog, udah dikasih tau tempat makan baru yang enak.






