Words are just words for those who don’t mean what they say.

Setelah dientas dari cetakan, menunggu dipotong jadi tigaBingung mengingat hal lain tentang Surabaya selain hawanya yang panas? Lain kali berkunjung sempatkan mampir ke Jalan Waspada, pada malam hari, untuk mencicipi jajan lokal yang satu ini.

Proses bikinDijamin gurih adonan kelapa dan tepung yang dipanggang dengan mentega dan aneka pilihan topping—seperti mesies cokelat, kacang, maupun keju—bikin Anda kangen. Karena gurih yang sama susah ditemukan pada banyak penjual kue pancong lain (termasuk yang di Jakarta, dekat daerah tempat tinggal saya sekarang). Ini memang jajanan paling nikmat buat disantap malam hari, selepas makan malam sambil jalan-jalan keliling kota, dan mestinya cukup untuk menetralisir kenangan awal Anda tentang Surabaya tadi.

Cak Mustar, lebih dari 20 tahun kemudianSudah sejak lama saya dan Papa saya mengenal Cak Mustar dan kue pancongnya. Saat itu beliau masih berjualan dengan pikulan, belum pakai merek, dan lokasinya berpindah-pindah. Kadang di Jalan Waspada, seberang Pasar Atum, kadang di Jalan Praban, salah satu pusat belanja sepatu dan sandal. Suatu kali kami juga mendapatinya berjualan di Jalan Pengampon II, dekat rumah almarhum Kukong saya. Ternyata beliau memang tinggal dan berjualan di situ saat pagi, hingga sekarang seperti tertulis di spanduknya. Kami tidak pernah bertanya apa sebabnya ia berpindah-pindah… Mungkin waktu itu rumah tinggalnya di sana juga, jadi bisa jualan sambil bersama keluarga. Mungkin juga terlanjur punya langganan di Praban dan Waspada dan susah memindahkannya (di Waspada dia berjualan di depan persewaan komik, yang pastinya nikmat banget membaca komik sambil menyantap jajan ini). Mungkin juga terlanjur fengshui-nya begitu, hahaha…

Asiknya nungguin20 tahun lebih berlalu, tidak banyak yang berubah dari Cak Mustar kecuali lebih gemuk—dipercaya orang sebagai pertanda banyak rejeki—sementara kue pancong bikinannya tetap selezat sediakala, baik yang pakai topping maupun original. Harganya juga masih bersahabat, di kisaran Rp 9000 (dari Rp 500-Rp 750 waktu kami pertama kali beli lebih 20 tahun lalu), dan selepas membayar dia tak pernah lupa bilang, “Kamsia, kamsia.”

Sama-sama. Matur nuwun, Cak!

It’s almost my third week of not being able to sleep well since the transfer news of Glen Johnson and rumours of possible Xabi Alonso and Javier Mascherano.

Johnson’s done deal had given a bit relief, despite his supreme price tag and salary. And though I’m almost sure it’s not because my email or Facebook status crying for an expensive right back, I’m very glad we share the same thought that the previous Liverpool team were lack at it. Not that I don’t like Arbeloa, in fact I was left very impressed with his performances last season, but I think to have a more aggressive right back is necessary. And since we don’t have the kind of money to sign players like Dani Alves or Sergio Ramos, Glen Johnson sounds enough promising. It’s even better not to sell Arbeloa, since it will provide options as well as competition.

Now back in central midfield. Having been one of the best partnerships in the world (along with Xavi-Iniesta, Lampard-Essien and Pirlo-Seedorf) does risk Xabi and Masch to attract interests from ambitious clubs, including the treble-winning Barcelona and next Galacticos Real Madrid. The 28 million pounds of investment is now worth at least 65 million (considering Xabi 30 and Masch 35) though we are not in the mood for selling.

I would also pray that both players are not in the rush of such move, especially in a moment where World Cup is less than a year ahead. A club first-team guarantee, plus of course an 80% journey towards becoming Liverpool history, should we win the Premiership title next May, might worth priceless… even if it is to trade with an already treble-winning side or playing alongside the most expensive players in the galaxy!

It may still be another eight weeks before the transfer windows closed and I could sleep well again, but I’ll trade my insomnia with any chance to see Alonso and Mascherano stay. So don’t let us down, guys. Please.

… and as August flies everything will never be the same.

the past you wish to forget
the future
far and farther

today,
cherish or blemish?
grayish
the cloud says hello to your toast done on one side
next to your cup of English breakfast
a warmth that lasts for a minute or two
before the sky shed its tears and cold
that no umbrella could ever hold

if happiness is
supposed to be wanting what you get
and not getting
what you want

why

is there free will?

a long and never ending joke
i wonder if we can laugh forever…

tuan rumah

Kuli kreatif yang jatuh cinta pada budaya dan seni. Lebih suka hidup di kelompok-kelompok kecil (small grouper), lebih bisa saling mengenal satu sama lain. Buat apa kuantitas tanpa kualitas? e:stevie.sulaiman@gmail.com

kalender

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

garasi